Thursday, 28 March 2019

TUGAS 1 ETIKA BISNIS

Nama : MUHAMMAD HAFIDZ

NPM  : 14216883

Kelas  : 3EA25

UNIVERSITAS GUNADARMA


PT. SUKA SUKA

PT. Suka Suka merupakan perusahaan di bidang konveksi.

Prinsip kejujuran.
Prinsip ini merupakan prinsip yang mendasar dari untuk kemajuan perusahaan, dimana apabila perusahaan menerapkan prinsip kejujuran ini maka harapan besar perusahaan akan berhasil dan sukses dalam kegiatan bisnisnya.

Jujur dan tidak berbohong.
Apabila melakukan kerja sama dengan  rekan bisnis sebaiknya menanamkan sikap jujur dan tidak membohongi rekan bisnis. contohnya adalah menyampaikan suatu hal tentang perusahaan tanpa mengubah maupun menutupi keadaan perusahaan yang sedang terjadi. Apabila kita menerapkan etika ini maka perusahaan lain akan tertarik untuk bekerja sama dengan perusahaan yang dikelola walaupun perusahaan tersebut sedang mengalami masalah keuangan dalam perusahaan.

Prinsip otonomi.
Prinsip otonomi dalam etika bisnis adalah bahwa perusahaan secara bebas memiliki kewenangan sesuai dengan bidang yang dilakukan dan pelaksanaannya sesuai dengan visi dan misi yang dipunyainya. Contoh prinsip otonomi dalam etika binis : perusahaan tidak tergantung pada pihak lain untuk mengambil keputusan tetapi perusahaan memiliki kekuasaan tertentu sesuai dengan misi dan visi yang diambilnya dan tidak bertentangan dengan pihak lain.

Dalam prinsip otonomi etika bisnis lebih diartikan sebagai kehendak dan rekayasa bertindak secara penuh berdasar pengetahuan dan keahlian perusahaan dalam usaha untuk mencapai prestasi-prestasi terbaik sesuai dengan misi, tujuan dan sasaran perusahaan sebagai kelembagaan. Disamping itu, maksud dan tujuan kelembagaan ini tanpa merugikan pihak lain atau pihak eksternal.
Dalam pengertian etika bisnis, otonomi bersangkut paut dengan kebijakan eksekutif perusahaan dalam mengemban misi, visi perusahaan yang berorientasi pada kemakmuran , kesejahteraan para pekerjanya ataupun komunitas yang dihadapinya. Otonomi disini harus mampu mengacu pada nilai-nilai profesionalisme pengelolaan perusahaan dalam menggunakan sumber daya ekonomi. Kalau perusahaan telah memiliki misi, visi dan wawasan yang baik sesuai dengan nilai universal maka perusahaan harus secara bebas dalam arti keleluasaan dan keluwesan yang melekat pada komitmen tanggung jawab yang tinggi dalam menjalankan etika bisnis.

Dua perusahaan atau lebih sama-sama berkomitmen dalam menjalankan etika bisnis, namun masing-masing perusahaan dimungkinkan menggunakan pendekatan berbeda-beda dalam menjalankannya. Sebab masing-masing perusahaan dimungkinkan menggunakan pendekatan berbeda-beda dalam menjalankannya. Sebab masing-masing perusahaan memiliki kondisi karakter internal dan pendekatan yang berbeda dalam mencapai tujuan, misi dan strategi meskipun dihadapkan pada kondisi dan karakter eksternal yang sama. Namun masing-masing perusahaan memiliki otoritas dan otonomi penuh untuk menjalankan etika bisnis. Oleh karena itu konklusinya dapat diringkaskan bahwa otonomi dalam menjalankan fungsi bisnis yang berwawasan etika bisnis ini meliputi tindakan manajerial yang terdiri atas : (1) dalam pengambilan keputusan bisnis, (2) dalam tanggung jawab kepada : diri sendiri, para pihak yang terkait dan pihak-pihak masyarakat dalam arti luas.

Prinsip keadilan.
Dalam menerapkan prinsip ini semua pihak yang berkaitan harus memberikan suatu kontribusi baik itu secara langsung dan tidak langsung terhadap keberhasilan bisnis. semua pihak yang terkait diwajibkan memiliki akses yang positif terhadap kemampuan dan peran yang telah diberikan masing-masing terhadap keberhasilan bisnis tersebut.

Prinsip etika di lingkungan hidup
Menggunakan panggilan dan sebutan nama orang lain dengan baik.
Pengusaha yang memiliki etika dalam berbisnis biasanya akan menyebutkan nama secara lengkap ketika bertemu dengan orang baru, hal tersebut sangat penting dilakukan guna menunjukkan bahwa pengusaha tersebut mempunyai etika yang baik. apabila namanya terlalu panjang dapat menyingkatnya sedikit.

Mengucapkan terima kasih.
Pada saat pengusaha melakukan kegiatan bisnis dengan pengusaha lain, diharapkan pada saat akhir pertemuan pengusaha mengucapkan ucapan terima kasih seperti "terima kasih atas waktunya dan kerja samanya". Dengan mengucapkan terima kasih kepada rekan kita maka mereka akan berpikir bahwa anda sangat membutuhkan kerjasama ini guna untuk kemajuan perusahaan. Dan untuk melihat respon mereka terhadap pertemuan
ini, pengusaha dapat mengirimkan ucapan terima kasih melalui sms maupun email.

Wednesday, 27 March 2019

TUGAS ETIKA BISNIS

Nama : MUHAMMAD HAFIDZ

NPM  : 14216883

Kelas  : 3EA25

UNIVERSITAS GUNADARMA

 

ETIKA FUNGSI PERUSAHAAN

PENDAHULUAN

Banyak faktor yang mempengaruhi dan menentukan kegiatan berbisnis. Sebagai kegiatan sosial, bisnis dengan banyak cara terjalin dengan kompleksitas masyarakat modern. Dalam kegiatan berbisnis, mengejar keuntungan adalah hal yang wajar, asalkan dalam mencapai keuntungan tersebut tidak merugikan banyak pihak. Jadi, dalam mencapai tujuan dalam kegiatan berbisnis ada batasnya. Kepentingan dan hak-hak orang lain perlu diperhatikan.
Secara umum kewajiban karyawan dan perusahaan mau tidak mau akan menghadapi banyak kesulitan sebab, diantara karyawan terdapat banyak variasi: ada posisi dan peran yang sangat beragam. Berbicara tentang karyawan, yang terutama kita maksudkan adalah manajer dalam arti mereka yang memimpin karyawan lain seperti kepala bagian. Alasannya terutama merekalah yang memikul tanggung jawab dalam perusahaan sehingga konsekuensi-konsekuensi etika tampak dengan lebih jelas.

TEORI

1. ETIKA
Etika berasal dari bahasa Yunani Ethos, yang berati norma – norma, nilai – nilai, kaidah – kaidah dan ukuran – ukuran bagi tingkah laku manusia yang baik. Etika berkaitan dengan konsep yang dimiliki oleh individu atau masyarakat untuk menilai apakah tindakan – tindakan yang telah dikerjakannya itu salah atau benar, baik atau buruk.
     a. Etika Umum
Berbicara megenai kondisi – kondisi dasar bagaimana manusia bertindak secara etis, bagaimana manusia mengambil keputusan etis, teori – teori etika dan prinsip – prinsip moral dasar yang menjadi pegangan bagi manusia dalam bertindak serta tolak ukur dalam menilai baik atau buruknya suatu tindakan. Etika umum dapat dianalogkan dengan ilmu pengetahuan yang membahas mengenai pengertian umum dan teori – teori.
b. Etika Khusus
Mengenai penerapan prinsip – prinsip moral dasar dalam berbagai bidang kehidupan yang khusus.

2. PROFESI
Etika profesi telah dimengerti oleh banyak orang bahwa suatu hal yang berkaitan dengan bidang yang sangat dipengaruhi oleh pendidikan dan keahlian, sehingga banyak orang yang bekerja tetap sesuai. Tetapi dengan keahlian saja yang diperoleh dari pendidikan kejuruan, juga belum cukup disebut profesi. Tetapi perlu penguasaan teori sistematis yang mendasari praktek pelaksanaan dan hubungan antara teori dan penerapan dalam praktek.

3. KODE ETIK
Kode yaitu tanda – tanda atau simbol – simbol yang berupa kata – kata, tulisan atau benda yang disepakati untuk maksud – maksud tertentu, misalnya untuk menjamin suatu berita, keputusan atau suatu kesepakatan suatu organisasi. Kode juga dapat berarti kumpulan peraturan yang sistematis. Kode etik dapat diartikan pola aturan, tata cara, tanda, pedoman etis dalam melakukan suatu kegiatan atau pekerjaan. Kode etik merupakan pola aturan atau tata cara sebagai pedoman berperilaku.
Dalam kaitannya dengan profesi, bahwa kode etik merupakan tata cara atau aturan yang menjadi standar kegiatan anggota suatu profesi.
 Suatu kode etik menggambarkan nilai – nilai profesional suatu profesi yang diterjemahkan kedalam standar perilaku anggotanya. Nilai profesional paling utama adalah keinginan untuk memberikan pengabdian kepada masyarakat.

LANDASAN ETIKA

  1. Naturalisme, bahwa sistem – sistem etika dalam kesusilaan mempunyai dasar alami, yaitu bahwa pembenaran hanya dapat dilakukan melalui pengkajian atas fakta. Bahwa manusia pada dasarnya baik.
  2. Individualisme, setiap orang bertanggungjawab sacara individual bagi dirinya sendiri. Interaksi  dalam masyarakat dilakukan demi keuntungan induvidunya masing – masing.
  3. Hedonisme, manusia selalu mengusahakan kenikmatan.
  4. Eudaemonisme, manusia berorientasi pada kebahagiaan.
  5. Utilitarianisme, bahwa ciri pengenal kesusilaan adalah manfaat suatu perbuatan.
  6. Idealisme, manusia terdiri dari jasmani dan rohani. Idealisme rasionalistik, bahwa menggunakan pikiran dan akal manusia dapat mengenal norma – norma yang menuntun perilakunya. Idealisme estetik, pandangan bahwa dunia serta kehidupan manusia dapat dilihat dari perspektif karya seni. Idealisme etik, pada intinya ingin menentukan ukuran – ukuran moral dan kesusilaan terhadap dunia dan manusia.
ETIKA DALAM PERUSAHAAN  


Sejalan dengan hal tersebut, penyusunan Pedoman Perilaku ini merupakan
penjabaran lebih lanjut dalam bentuk perilaku yang diharapkan dari Tata Nilai
Perusahaan yang disingkat IPTEC (Integrity, Professionalism, Trust,
Excellent, Customer Focus).

  1. Integrity (Integritas)
Wujud dari sikap anggota Perseroan yang secara konsisten menunjukkan
kejujuran, keselarasan antara perkataan dan perbuatan dan rasa tanggung
jawab terhadap pengelolaan perusahaan dan pemanfaatan kekayaan
perseroan untuk kepentingan baik jangka pendek maupun jangka panjang
serta rasa tanggung jawab terhadap semua pihak yang berkepentingan.

  1. Professionalism (Profesional) 
Perilaku kerja positif yang memiliki anggota Perseroan dengan kesadaran
tinggi untuk selalu memberikan total komitmen pada paradigma kerja yang
integral. Meningkatkan kemampuan dan menguasai bidang keahlian
sehingga menciptakan penampilan (performance) yang unggul dalam
bidangnya untuk mendukung citra Perseroan.

  1. Trust (Dapat Dipercaya) 
Membangun sikap dapat dipercaya yang dilandasi oleh keyakinan akan
integritas, itikad baik dan kompetensi dari semua pihak baik internal maupun
eksternal dalam penyelenggaraan praktek bisnis yang bersih dan etikal.

  1. Excellent (Unggul)
Perilaku kerja yang selalu berusaha memberikan produk yang terbaik dari
segi biaya, mutu dan waktu.

  1. Customer Focus (Fokus pada Pelanggan) 
Perilaku kerja yang selalu berusaha mengutamakan kepentingan pelanggan
serta memberikan solusi yang efektif dan efisien.

ANALISIS

  

KESIMPULAN


Dengan membuat kode etik, profesi sendiri akan menetapkan hitam atas putih niatnya untuk mewujudkan nilai – nilai moral yang dianggapnya hakiki. Hal ini tidak akan pernah bisa dipaksakan dari luar. Hanya kode etik yang berisikan nilai – nilai dan cita – cita yang diterima oleh profesi itu sendiri yang bisa mendarah daging dengannya dan menjadi tumpuan harapan untuk dilaksanakan dengan tekun dan konsekuen. Syarat lain yang harus dipenuhi agar kode etik dapat berhasil dengan baik adalah bahwa pelaksanaannya diawasi terus menerus.
Karyawan dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab harus didasari oleh kode etik. Ini semua agar seorang karyawan (pengawai)  tetep menjalankannya sesuai dengan kaidah atau aturan yang telah ditetapkan oleh Ikatan karyawan(pengawai)  Indonesia yang diharapkannya agar kedepan karyawan  yang profesional dapat menjadi suatu contoh yang baik.

REFERENSI :
http://diandzcot.blogspot.com/2016/10/makalah-etika-bisnis.html
https://www.academia.edu/25514637/ETIKA_BISNIS_DAN_TANGGUNG_JAWAB_SOSIAL_PERUSAHAAN_TUGAS_ETIKA_BISNIS


Monday, 14 January 2019

TUGAS EKONOMI KOPERASI 4

Nama : MUHAMMAD HAFIDZ

NPM  : 14216883

Kelas  : 3EA25

UNIVERSITAS GUNADARMA


MATERI 1

PERANAN KOPERASI


Peran Koperasi Dalan Membangun Ekonomi

Adanya berbagai jenis koperasi tentu memiliki peran penting bagi setiap lembaga dan anggota yang menjalankannya untuk membangun perekonomian. Berikut adalah beberapa peran dari koperasi.

Meningkatkan Pendapatan Anggota

Sisa Hasil Usaha (SHU) yang diperoleh koperasi merupakan keuntungan para anggota. Makin besar jasa seorang anggota terhadap koperasi makin besar pula penghasilan yang diperoleh anggota itu.

Menciptakan Lapangan Pekerjaan

Koperasi bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan para anggota dan juga masyarakat pada umumnya. Dalam mencapai tujuan tersebut, koperasi berusaha melakukan kegiatan sesuai dengan jenis koperasi, seperti di bidang kerajinan, pertanian, dan pertokoan. Dibukanya lapangan usaha koperasi berarti memberi kesempatan kepada tenaga kerja dan menyerap sumber daya manusia pada umumnya.

Meningkatkan Taraf Hidup Masyarakat

Kegiatan koperasi dapat meningkatkan penghasilan para anggota koperasi. Ini berarti sekaligus meningkatkan taraf hidup masyarakat. Dengan memperoleh penghasilan yang tinggi kemungkinan akan lebih mudah memenuhi kebutuhan hidup yang beraneka ragam.

Turut Mencerdaskan Bangsa

Usaha koperasi bukan hanya kegiatan di bidang material, tetapi juga mengadakan kegiatan pendidikan terhadap para anggota. Pendidikan tersebut antara lain diberikan dalam bentuk pelatihan keterampilan dan manajemen. Dengan demikian, koperasi turut berperan dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.

Mengembangkan Daya Usaha

Koperasi merupakan kekuatan yang dapat dipergunakan untuk mencapai tujuan bersama. Misalnya, koperasi pertanian dalam melakukan kegiatan usahanya dapat mempersatukan usaha para petani untuk memenuhi kebutuhannya, seperti usaha pengadaan pupuk, bibit, alat pertanian, dan menjual bersama produksi pertanian.

Menyelenggarakan Kehidupan Ekonomi

Pada setiap kegiatan, koperasi bertindak bukan atas kehendak pengurus, melainkan berdasarkan keinginan para anggota, yaitu terlebih dahulu harus dimusyawarahkan. Hal ini merupakan pencerminan dari pelaksanaan demokrasi ekonomi.


MATERI 2

PEMBANGUNAN KOPERASI



  Pembangunan Koperasi

Pembangunan koperasi dapat diartikan sebagai proses perubahan yang menyangkut kehidupan perkoperasian Indonesia guna mencapai kesejahteraan anggotanya. Tujuan pembangunan koperasi di Indonesia adalah menciptakan keadaan masyarakat khususnya anggota koperasi agar mampu mengurus dirinya sendiri .

A. Permasalahan dalam Pembangunan Koperasi

Koperasi bukan kumpulan modal, dengan demikian tujuan pokoknya harus benar-benar mengabdi untuk kepentingan anggota dan masyarakat di sekitarnya. Pembangunan koperasi di Indonesia dihadapkan pada dua masalah pokok yaitu masalah internal dan eksternal koperasi.
1. Masalah internal koperasi antara lain: kurangnya pemahaman anggota akan manfaat koperasi dan pengetahuan tentang kewajiban sebagai anggota. Harus ada sekelompok orang yang punya kepentingan ekonomi bersama yang bersedia bekerja sama dan mengadakan ikatan sosial. Dalam kelompok tersebut harus ada tokoh yang berfungsi sebagai penggerak organisatoris untuk menggerakkan koperasi ke arah sasaran yang benar.
2. Masalah eksternal koperasi antara lain iklim yang mendukung pertumbuhan koperasi belum selaras dengan kehendak anggota koperasi, seperti kebijakan pemerintah yang jelas dan efektif untuk perjuangan koperasi, sistem prasarana, pelayanan, pendidikan, dan penyuluhan.
B. Kunci Pembangunan Koperasi
Menurut Ace Partadiredja, faktor-faktor yang menghambat pertumbuhan koperasi Indonesia adalah rendahnya tingkat kecerdasan masyarakat Indonesia. Hal ini disebabkan karena pemerataan tingkat pendidikan sampai ke pelosok baru dimulai pada tahun 1986, sehingga dampaknya baru bisa dirasakan paling tidak 15 tahun setelahnya.
Berbeda dengan Ace Partadiredja, Baharuddin berpendapat bahwa faktor penghambat dalam pembangunan koperasi adalah kurangnya dedikasi pengurus terhadap kelangsungan hidup koperasi. Ini berarti bahwa kepribadian dan mental pengurus, pengawas, dan manajer belum berjiwa koperasi sehingga masih perlu diperbaiki lagi.
Prof. Wagiono Ismangil berpendapat bahwa faktor penghambat kemajuan koperasi adalah kurangnya kerja sama di bidang ekonomi dari masyarakat kota. Kerja sama di bidang sosial (gotong royong) memang sudah kuat, tetapi kerja sama di bidang usaha dirasakan masih lemah, padahal kerja sama di bidang ekonomi merupakan faktor yang sangat menentukan kemajuan lembaga koperasi.
Ketiga masalah di atas merupakan inti dari masalah manajemen koperasi dan merupakan kunci maju atau tidaknya koperasi di Indonesia.
Untuk meningkatkan kualitas koperasi, diperlukan keterkaitan timbal balik antara manajemen profesional dan dukungan kepercayaan dari anggota. Mengingat tantangan yang harus dihadapi koperasi pada waktu yang akan datang semakin besar, maka koperasi perlu dikelola dengan menerapkan manajemen yang profesional serta menetapkan kaidah efektivitas dan efisiensi. Untuk keperluan ini, koperasi dan pembina koperasi perlu melakukan pembinaan dan pendidikan yang lebih intensif untuk tugas-tugas operasional. Dalam melaksanakan tugas tersebut, apabila belum mempunyai tenaga profesional yang tetap, dapat dilakukan dengan bekerja sama dengan lembaga-lembaga pendidikan yang terkait.
Nebraska Gaay Schwediman berpendapat bahwa untuk kemajuan koperasi maka manajemen tradisional perlu diganti dengan manajemen modern yang mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
1. Semua anggota diperlakukan secara adil,
2. Didukung administrasi yang canggih,
3. Koperasi yang kecil dan lemah dapat bergabung (merjer) agar menjadi koperasi yang lebih kuat dan sehat,
4. Pembuatan kebijakan dipusatkan pada sentra-sentra yang layak,
5. Petugas pemasaran koperasi harus bersifat agresif dengan menjemput bola bukan hanya menunggu pembeli,
6. Kebijakan penerimaan pegawai didasarkan atas kebutuhan, yaitu yang terbaik untuk kepentingan koperasi,
7. Manajer selalu memperhatikan fungsi perencanaan dan masalah yang strategis,
8. Memprioritaskan keuntungan tanpa mengabaikan pelayanan yang baik kepada anggota dan pelanggan lainnya,
9. Perhatian manajemen pada faktor persaingan eksternal harus seimbang dengan masalah internal dan harus selalu melakukan konsultasi dengan pengurus dan pengawas,
10. Keputusan usaha dibuat berdasarkan keyakinan untuk memperhatikan kelangsungan organisasi dalam jangka panjang,
11. Selalu memikirkan pembinaan dan promosi karyawan,
12. Pendidikan anggota menjadi salah satu program yang rutin untuk dilaksanakan.

DAFTAR PUSTAKA :
https://www.jurnal.id/id/blog/2017-tujuan-dan-peran-koperasi-dalam-membangun-perekonomian/